Rabu, 16 Juli 2008

Pengemis yang diabaikan

Perekonomian Aburizal Bakrie mengatakan, hingga 2004 ini masih terdapat 16 persen penduduk miskin di Indonesia. “Apabila menuruti ukuran kemiskinan bank dunia US$ 2 per hari, maka masih ada 47 persen penduduk yang tergolong miskin,” ujarnya ketika memberikan sambutan seminar tentang Usaha Kecil Menengah (UKM) di Jakarta, Kamis (23/12) siang.

Menurut Ical, demikian biasa ia disapa, indikator sosial tersebut jelas menunjukkan bahwa makin banyak kelompok masyarakat yang sangat rentan berubah statusnya dari bukan miskin menjadi miskin akibat guncangan ekonomi. “Goncangan tersebut bisa berasal dari dalam rumah tangga sendiri maupun dari luar seperti kondisi makro ekonomi,” kata dia.

Ical menguraikan, sampai awal 2004 jumlah penduduk miskin sekitar 36,1 juta jiwa atau 16,6 persen dari jumlah penduduk. Dari total penduduk miskin tersebut, 11,5 juta jiwa berada diperkotaan dan 14,6 juta berada dipedesaan. “Pemerintah akan terus berupaya menurunkan jumlah penduduk miskin dengan pemberian dana kompensasi subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM),” katanya.

Pemerintah, kata Ical, pada 2005 menganggarkan subsidi sebesar Rp 21 triliun dengan asumsi harga minyak US$ 24 per barel. Diperkirakan harga minyak di pasar internasional berada pada level lebih tinggi, sehingga jumlah subsidi diharapkan akan meningkat pula. Tahun depan jumlah subsidi diestimasikan sebesar Rp 22 triliun dengan asumsi harga minyak US$ 35 per barel.

Tidak ada komentar: